Kliping Sastra Nusantara On Saturday, 3 December 2016

Di tangan dua kelompok tamu Festival Teater Jakarta, cerita-cerita pendek yang ditulis sastrawan dan perupa Danarto ada pada 1970-an dan 1980-an terasakan seperti baru ditulis kemarin sore. Dua pementasan Jaring Project dan Artery membuktikan selalu ada cara baru mencari dan membangun peristiwa di panggung teater.

Dalam kegelapan, kain latar panggung yang hitam terangkat, menyuguhkan sebuah lorong panjang yang ada di baliknya. Dentuman teratur memekak telinga, dengan irama yang lebih lambat daripada denyutan jantung, mencekamkan cahaya putih yangmenyorot kuat dari ujung lorong. Lorong cahaya itu menyilaukan, membuat samar sesosok ganjil yang meluncur perlahan.

Ya, meluncur, sosok itu tak berjalan. Bentuk seperti sepasang sayap di punggungnya pun tak mengepak. Tubuhnya seperti mengambang, meluncur anggun melintasi lorong cahaya, perlahan rupanya kian mewujud jelas. Jas hitamnya sedikit kedombrongan, bercelana kain layaknya kaum berdasi, tetapi memakai sepasang sepatu bot plastik murahan.

Luncurannya sosok ganjil itu berhenti di bibir belakang panggung yang kini gelap gulita lantaran lorong cahaya itu menghilang. Sesorot cahaya putih dari sayap panggung menerpa seadanya. Samar, sosok ganjil itu mengangkat tangan, mengujar teks dari cerita pendek ”Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” karya Danarto dengan penuh wibawa.

”Akulah Jibril. Malaikat yang suka membagi-bagikan wahyu yang dipercayakan Tuhan kepadaku. Jika angin berhembus, itulah aku. Aku di padang pasir, aku di gunung-gunung, aku di laut, aku di udara. Aku suka berjalan-jalan di antara pepohonan, melentur-lentur melayang di antara batang pohon pisang dan mangga. Kedatanganku senantiasa ditandai hembusan angin di antara pepohonan atau padang pasir…,” sang Jibril bersabda.

Pelan, keremangan panggung sirna, bertajuk ”Menjaring Malaikat” oleh Jaring Project dalam salah satu bagian dari pementasan Festival Teater Jakarta di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. kewibawaan Jibril pun menguap. Ia meluncur pelan dengan tubuhnya tak lagi menegap gagah. Aktor Jamaluddin Latif memang piawai memainkan mini scooter elektroniknya, yang membawa tubuhnya meluncur berkeliling panggung. Si Jibril yang kini bengal bergoyang-goyang ke kiri-kanan. Dengan tubuh terbungkuk, tetapi pongah, dan tampang yang jahil, mengujar kalimat-kalimatnya sendiri.

”Tapi, tugasku menyampaikan wahyu telah selesai. Nabi terakhir telah ditetapkan. Jadi, akulah Jibril, malaikat pengangguran,” kata Jibril terkekeh-kekeh.

”…Supaya aku masih tampak punya harga diri, dan tidak dituduh memakan gaji buta, aku pura-pura tetap sibuk bekerja. Salah satunya adalah mengusili para manusia. Aku pernah membisiki orang-orang tertentu, meminta orang-orang itu mengaku menjadi nabi baru. Keisenganku menimbulkan gejolak panas. Banyak orang yang tidak terima dan marah-marah,” Jibril tertawa-tawa, tubuhnya meluncur ke kiri-kanan, tanpa berjalan.

Naratif

Pic taken by @gilardjalu
Begitulah Jamaluddin mengalirlah alur dari cerita pendek yang ditulis Danarto pada 1975 itu. Cerita pendek itu telah disadur menjadi naskah monolog oleh Desi Puspitasari, yang juga seorang novelis dan cerpenis. Kata-kata bengal, seperti bagaimana Jibril merasa menjadi malaikat pengangguran menjadi jembatan untuk memanggungkan teks asli Danarto yang bercerita tentang bagaimana Jibril mengisengi sebuah sekolah berikut tukang kebunnya.

Jaring Project, kelompok penggarap monolog berjudul ”Menjaring Malaikat” itu, menjadi salah satu kelompok tamu yang diundang memeriahkan Festival Teater Jakarta yang berlangsung pada 21 November-9 Desember ini. Kelompok kolaborasi asal Yogyakarta itu, antara lain, diawaki Jamaluddin Latif, sutradara teater Ibed Surgana Yuga, Desi Puspitasari, musisi Ishari ”Ari Wulu” Sahida, musisi/perupa Roby Setiawan, dan penata cahaya Sugeng Utomo.

Kolaborasi para seniman yang terbiasa memakai beragam medium seni untuk mengungkap gagasan itu memang melahirkan tampang panggung yang sedap dipandang mata. Adegan Jibril tertawa-tawa, senang melihat tukang kebun yang mengira benar-benar bisa menangkap malaikat, dilakukan Jamaluddin dengan meluncur berayun-ayun di balik ”payung” jaring jingga menyala itu, dalam penataan cahaya yang apik, membuat panggung seperti lukisan berkomposisi sempurna. ”Menjaring Malaikat” serba pas, serba terkendali.

Apa yang tersaji di panggung sungguh berbeda dengan apa yang dituturkan Ibed dalam diskusi biografi karya pada Selasa (29/11). Ibed bercerita banyaknya benturan yang lahir karena kepentingan estetika berbeda di antara para kolaborator berbeda medium seni itu.

Di panggung, monolog naratif Jamaluddin dominan. Ia memang piawai beralih peran dari Jibril menjadi tukang kebun, dari tukang kebun menjadi guru, bahkan mendendangkan nyanyian gembira anak-anak sekolah melihat Jibril terjerat jaring. Membiarkan pelakon sekelas Jamaluddin mendominasi sebuah kolaborasi pementasan teater memang membuat ”Menjaring Malaikat” memukau, tetapi itu seperti cara ”main aman” menata seluruh benturan kepentingan estetika antara ”kolaborator teater” dan para ”kolaborator nonteater”.

Stilasi kata

Suguhan berbeda dihadirkan Artery, kelompok teater asal Jakarta yang didirikan beberapa awak Teater Omponk pada 2013. Sutradara dan penulis lakon Dendi Madiya membangun lakonnya dari sejumlah cerita dalam dua antologi cerpen Danarto, ”Adam Ma’rifat” dan ”GODLOB”. Alih-alih memilih panggung prosenium yang ”stabil” dan ”steril”, Artery memanggungkan lakon ”Abracadabra” di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, dengan membiarkan penontonnya duduk berpencaran di lantai galeri, bahkan berpindah-pindah mengikuti titik pengadeganan yang terus berpindah, dengan pencahayaan lampu senter. 

Dalam ”Abracadabra”, Dendi menanggalkan sekaligus memiuhkan beragam penanda dari tujuh cerita pendek Danarto menjadi beragam elemen pertunjukan teater. Sebagian kecil teks Danarto diucapkan, tetapi sebagian besar teks itu telah dialih-wujudkan menjadi beragam elemen teater—cahaya, bunyi, tempo, rupa, dan tentu saja keaktoran pelakon. Apa yang ada di arena pertunjukan Artery adalah adonan tanggapan Dendi dan masing-masing pelakon atas teks-teks Danarto, tanggapan yang tidak melulu representasional. 

Dalam salah adegan, misalnya, satu pelakon berjalan mundur dengan menyeret sepasang sepatu, melewati terpal yang menghampar di lantai galeri. Sang pelakon mengikat satu sepatu dengan senar yang satu kaki, juga satu sepatu lain di kaki yang lain. Perlahan, ia berjalan mundur, membuat sepatu itu terseret melintasi terpal yang menggelembung di sana sini, dan penuh ”taburan” kertas kado. Tiap kali sepatu itu terguling, sang aktor berjongkok, membuat sepatu itu menapak lagi, dan menyeretnya lagi. Sepatu itu terguling lagi, dan ia harus berjongkok lagi, membuat sepatu itu menapak lagi. 

Dendi menyebut, ”Abracadabra” memang lebih memilih menghadirkan impresi ketimbang teks dari berbagai cerita pendek Danarto ”Impresi dalam semua cerita pendek Danarto adalah refleksi tentang kelahiran, kehidupan, dan kematian. Dari impresi itu, terbentuklah adegan sepatu itu, tentang bagaimana setiap pilihan langkah kita selalu meninggalkan jejak. Kami memang memilih stilasi dari teks Danarto, karena teks Danarto hakikatnya bukan cuma prosa yang bercerita. Bagi saya, menampilkan teks Danarto utuh-utuh justru akan membuat keutuhan Danarto dan teks-teksnya tidak tertampilkan,” ujar Dendi. 

Jaring Project dan Artery memilih cara berbeda untuk menubuhkan teks Danarto menjadi peristiwa panggung, sekali lagi menegaskan tak berbatasnya kemungkinan pemanggungan gagasan apa pun. Dengan cara berbeda, keduanya sama-sama berhasil menyodorkan lagi pertanyaan-pertanyaan kunci dari cerita pendek Danarto. Dua Danarto di panggung Festival Teater Jakarta berhulu cerita pendek yang ditulis pada 1970-an hingga 1980-an, tetapi tetap aktual menyodorkan pertanyaan kunci atas situasi kekinian kita.

Rujukan:
[1] Disalin dari artikel Aryo Wisanggeni
[2] Pernah tersiar di kolom teater, surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 3 Desember 2016


Liputan lain (mengenai photo) bisa dilihat di link Koran Tempo ini