Desi Puspitasari On Friday, 1 July 2016

Aah, menuliskan blog tentang latihan hari ini membikin kangen sepiring nasi sayur lodeh panas lauk telur dadar dan segelas teh panas manis menu angkringan museum wayang Ukur. 🍛

Yap, untuk latihan reading naskah pertama tanggal 20 Juni 2016
kami berlokasi di Museun Wayang Ukur. Sebelum dimulai, kami sempat makan terlebih dulu dan memang masakannya enak.

Kembali ngomongin latihan, naskah sudah direvisi dari hasil diskusi beberapa malam yang lalu, saat semua berkumpul di kedai Kandang Jaran.

Naskah Menjaring Malaikat kali ini memiliki tiga sudut pandang; Malaikat, si Tukang Kebun, dan anak-anak. Inginnya menonjolkan pak Guru dengan porsi lebih, namun di dalam cerpen yang ditulis sedikit. Oke, kita mulai dari apa yang ada.

Malam itu Mas Jamal mulai reading atau membaca naskah keras-keras supaya ia bisa naskah bisa lebih terasa ketimbang dibaca dalam hati. Juga supaya Ibed selaku sutradara bisa membayangkan bagaimana pengadeganannya.

Seperti bagaimana teknis genteng yang jatuh, bagaimana saat malaikat terperangkap masuk jaring, apakah pula porsi pak Guru sebaiknya ditambah, bagaimana mewujudkan nyanyian yang bersahut-sahutan antara malaikat dengan anak-anak, juga pemilihan dan pemilahan bagian mana dari naskah yang bisa diucapkan dan mana yang sebaiknya diperistiwakan, dll.

Reading awal sudah dihitung berapa menit berjalannya waktu. Sekitar 40 - 45 menit. Menurut Ibed kisaran waktu tersebut sudah lumayan-- tak terlalu cepat dan tak terlalu lama. Belum nanti latihan akan memasukkan unsur musik dan lampu. Juga properti yang mestinya akan menambah waktu jam pertunjukan.