Utroq Trieha On Wednesday, 20 April 2016

SETELAH kemarin ’gagal‘ enggak jadi bisa mengadaptasi cerpen GODLOB  (keduluan peserta lain, cuuy) untuk pertunjukan monolog kelak di Solo, kami – Jamal, Desi, Utroq – membaca dan memilih kembali cerpen-cerpen Danarto yang ada di kumpulan cerpen Adam Ma’rifat dan Godlob

Untuk kepentingan pertunjukan monolog di festival Solo adalah Jamal sebagai penampil – aktor yang akan menyajikan adaptasi teks cerpen Danarto ke panggung pertunjukan. Maka, pilihan cerpen akan lebih afdol kalau berangkat dari kesukaan atau pilihan Jamal. Kami – Desi dan Utroq – yang akan memberi masukan tambahan dan juga kemungkinan dan atau kelebihan lain yang kami lihat di diri Jamal menggunakan sudut pandang orang luar ataupun penonton.

Minggu pertama di bulan April 2016 kami membikin janji bersua kembali. Pertemuan kedua kali ini personnya masih sama; Jamal, Desi, dan Utroq yang ketemuan di Taman Kuliner Yogyakarta. Ditemani basah air hujan hingga malam, kami membahas pilihan cerpen yang dikehendaki.

Pilihan awal yang muncul ada empat dengan berbagai macam pertimbangan, yaitu dua cerpen dari buku kumcer Godlob dan dua cerpen dari buku kumcer adam makrifat. Namun pada hari itu yang kami kerucutkan tinggal dua cerpen, yaitu Bedoyo Robot Membelot dan Mereka Toh Tak Mungkin Menjaring Malaikat, dua-duanya adalah cerpen yang ada di buku kumpulan cerpen Adam Ma’rifat. Alasan kami memilih dua cerpen tersebut adalah karena berkemungkinan besar diadaptasi dengan tantangan-tantangan penggarapan yang ada.

Bedoyo Robot Membelot bercerita mengenai sebuah guru tari tradisional dengan segala keriuhannya. Pada satu kesempatan para penari itu terbang ke langit meninggalkan orang-orang yang sedang pesta terbengong-bengong. Sayangnya tak lama kemudian orang-orang itu melupakan peristiwa yang baru saja terjadi dan kemudian kembali bersenang-senang.  Sedangkan Mereka Toh Tak Mungkin Menjaring Malaikat berkisah tentang sosok malaikat Jibril yang berinteraksi dengan murid-murid di sebuah SD, yang pada awal cerita Jibril menceritakan pekerjaannya yaitu menyampaikan wahyu. Hingga kemudian dia membikin genteng jebol dan terjadilah interaksi dengan para manusia. 

Di antara dua cerpen tersebut, Jamal lebih condong memilih “Bedoyo Membelot” dari segi cerita dan untuk keaktoran ia lebih tertantang. Yakni, berperan sebagai seorang perempuan. Desi pun sepakat dengan pilihan Budaya Robot Membelot dengan alasan yang kurang lebih sama, apalagi Desi melihat kemampuan Jamal yang sangat elok apabila berperan sebagai penari perempuan.

Sementara itu, meski jika dilihat dari segi cerita, kedua cerpen itu sama-sama menantang untuk digarap dan dibawakan Jamal, namun Utroq Trieha memiliki pendapat berbeda. Berangkat dari alasan Desi yang yakin akan kemampuan-keaktoran Jamal yang akan luwes berperan sebagai perempuan penari pun guru tari, pertanyaannya ’diganti’ menjadi; kalau sudah yakin dengan kemampuan Jamal yang mumpuni berperan lawan jenis, mengapa tidak menantang kemampuan Jamal untuk memerankan tokoh yang lebih sulit? 

Tokoh yang lebih sulit? 

Iya. Kalau main teater sebagai perempuan dan seorang guru tari, Jamal enggak diragukan lagi kemampuannya, kan? Pasti mumpuni dan lanyah sekali. Maka menurut Utroq, kenapa tidak ditingkatkan lagi tantangan kesulitannya?

Apa? Bagaimana?

Jamal main sebagai malaikat yang berangkat dari pilihan cerpen Mereka Toh Tak Mungkin Menjaring Malaikat, bagaimana? Tanya Utroq. Peran manusia itu mudah, tantangan cerpen ini adalah bagaimana Jamal sebagai aktor mewujudkan sosok malaikat itu ke atas panggung? Tantangan juga bagi Desi yang mengadaptasi naskah; bagaimana memahami karakter malaikat di dalam cerpen yang  kemudian kudu mewujudkan ulang ke dalam naskah monolog? 

Nah, nah? Lalu, bagaimana? 

Kalau urusannya meningkatkan performa tentu sebaiknya aktor dan penulis naskah memilih cerpen yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Ya, nggak? 

Semakin menantang, semakin terbuka banyak sekali kemungkinan proses adaptasi naskah dan pemanggungannya. Ya, nggak? :D

Apalagi menurut Utroq, naskah cerpen "Mereka Toh Tak Mungkin Menjaring Malaikat" masih sangat terbuka banyak kemungkinan dalam penggarapannya. Termasuk menyisipkan pesan kepada penonton tentunya.

Nah, nah, jadi bagaimana nih? Mau pilih menari atau menjaring, yaaaa?[dps|uth]